Telusur :
 
Profil Tokoh
 
Detail Cantuman
Profil Tokoh Batavia
 
◄ Kembali Ke Daftar
Nama Oey Tambahsia
Jabatan Liutenant der Chinezen
Masa Tugas 1800an
Riwayat:
 
 

Kisah Casanova dari Batavia yang Berakhir di Tiang Gantung

 

Di belahan bumi Eropa, sejumlah literatur dengan topik percintaan acap menyinggung sosok playboy macam Giacomo Casanova atau Don Juan. Ternyata figur penggila kaum hawa sekaligus petualang cinta bak Casanova juga pernah ada dan bikin heboh Batavia – nama lama Jakarta di zaman kolonial Belanda.

 

Adalah Oey Tambahsia yang pada awal abad ke-19, sempat bikin geger Batavia gara-gara kelakuannya. Pasalnya Oey Tambahsia tidak hanya memburu wanita yang masih single, tapi juga yang sudah punya pasangan sah alias suami!

 

Sedikit mengenal sosoknya, Oey Tambahsia merupakan anak seorang “juragan” tembakau di kawasan Sha Keng Tho Kho (kini Jalan Toko Tiga, Glodok).

 

Tidak hanya kaya, ayah sang playboy Oey Thay, juga punya jabatan mentereng sebagai Liutenant der Chinezen di Kali Besar, karena kedekatannya dengan para petinggi Tionghoa lainnya yang digandeng pemerintah kolonial.

 

Jadilah Oey Tambahsia kian mirip dengan kisah Casanova yang digambarkan juga punya kekayaan melimpah. Lebih lagi ketika sang ayah meninggal, Oey Tambahsia mewarisi sejumlah bidang tanah. Ditambah rumah, sejumlah perhiasan dan uang bernilai lebih dari dua juta gulden.

 

Makin kaya, makin besar pula gengsi Oey Tambahsia dan tentunya, hidup foya-foya jadi rutinitas tersendiri bagi seorang pemuda Tionghoa yang kekayaan warisan ayahnya takkan habis tujuh turunan itu.

 

“Saking kayanya, dulu pernah ada cerita dia sering membersihkan bokongnya sehabis buang air besar dengan uang kertas gulden. Dulu banyak tuh warga sekitar yang nungguin buat direbutin,” terang penggiat sejarah Beny Rusmawan kepada Okezone.

 

Rutinitas lainnya yang gemar dilakukannya adalah pelesiran di atas pelana kuda dengan pakaian mewah, sembari “memancarkan radar” demi mendeteksi wanita-wanita jelita nan molek. Meski begitu pada suatu ketika saat tengah jalan-jalan di kawasan Pasar Senen, Oey Tambahsia terpesona dengan seorang gadis dari keluarga Tionghoa bermarga Sim.

 

Singkat kata, dipinanglah gadis itu dan dirayakan dengan pesta yang dikatakan sebagai pesta terbesar di Batavia di era 1830-an. Perayaannya bahkan berlangsung berhari-hari hingga menutup beberapa jalan di Batavia.

Tapi apakah dengan menikah, kebiasaannya yang gila wanita serta-merta sirna? Sayangnya tidak. Setelah beberapa pekan sehabis resepsi besar-besaran dan bulan madu, Oey Tambahsia balik ke kebiasaan lamanya, yakni “main perempuan”.

 

Hampir setiap wanita yang dirayu dan berhasil digaetnya, diajaknya bergumul dalam permainan cinta di sebuah vila yang dimilikinya di daerah Ancol. Tidak hanya di Batavia, ketika “mudik” ke Pekalongan (tanah kelahiran ayahnya) pun, Oey muda tetap ‘jelalatan’ cari mangsa.

 

Hingga pada suatu saat, Oey muda pernah kepincut dengan seorang penyanyi sinden pribumi. Ikut “diangkut” lah pesinden bernama Guncing itu. Meski sudah “memiliki” Guncing, Oey tetap cemburu pada seorang lelaki bernama Sutedjo. Tedjo ini disebutkan dalam beberapa literatur, masih berhubungan saudara dengan Guncing.

 

Tapi karena kedekatannya, Oey muda cemburu. Kesal dan gelap mata, Oey Tambahsia memerintahkan ‘centeng-centengnya’ untuk menghabisi Tedjo. Kejahatan seperti ini juga sejatinya tidak hanya dilakukan pada orang-orang yang jadi rival dalam hal percintaan, tapi juga tak jarang terhadap para pesaing bisnisnya.

 

Sampai akhirnya aparat pemerintahan kolonial sudah gerah dengan perilaku dan kejahatannya, dikirimlah puluhan aparat bersenjata mengepung rumahnya. Oey muda menyerah dan ditahan, hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan tiang gantungan.

 

Saat divonis dan diputuskan bahwa nyawanya bakal berakhir tragis di tiang gantungan, sang Casanova van Batavia baru berusia 31 tahun. Jelang ajalnya pun arogansi Oey muda tak kunjung sirna.

 

“Waktu sebelum dieksekusi hukuman gantung, dia bilang sama algojonya. Bahwa kalau si algojo bisa melakukan eksekusi tanpa membuat Oey didera rasa sakit tak terperikan, si algojo boleh ambil (bayaran) 100 gulden yang ada di saku pakaiannya,” tandas Beny.

 

(raw)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2016/09/10/337/1486396/news-story-kisah-casanova-dari-batavia-yang-bera
◄ Kembali Ke Daftar
 
 
 
Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan Anda pengunjung ke - sejak 31 Agustus 2015 ©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia