Telusur :
 
Kisah Bersejarah
 
Detail Cantuman
Koleksi Kisah Bersejarah Batavia
 
◄ Kembali Ke Daftar
Judul Lika-liku Jalur KA Batavia-Bandoeng
Tahun 1888
Uraian:  
 

Penelusuran tentang perkembangan, dan kematian, jalur kereta api Jakarta-Bandung, bisa dilihat pula dalam buku Het Indische Spoor in Oorlogstijd bikinan Jan de Bruin. Dalam buku itu terpampang peta-peta yang menunjukkan perkembangan jalur kereta api di Jawa dan Madura. Tahun 1888, tampak jalur kereta api dari Batavia – Tjitjalengka. Di situ tampak pula jalur di ujung utara Jakarta, yaitu Tanjungpriok dan juga jalur Batavia-Bekasi. Dalam kurun waktu sebelas tahun kemudian, jalur kereta api itu sudah bertambah lagi, yaitu Batavia-Tangerang, Batavia-Rangkasbitoeng, Batavia-Krawang, di antara Buitenzorg (Bogor) dan Padalarang (sebelum masuk Bandung), ada penambahan Tjandjoer. Jalur yang semula berhenti di Tjitjalengka, berlanjut ke Tjibatoe hingga Garoet bahkan akhirnya menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Di tahun 1888, jalur Batavia berhenti di Tjitjalengka sedangkan di Jawa Tengah, bermula dari Samarang (Semarang) berhenti hingga Tjilatjap. Peta tersebut juga menunjukkan batas-batas jalur kereta api berdasarkan periode perusahaan kereta api yang membangun. Di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg tertulis NIS alias Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Perusahaan kereta api swasta ini mulai membangun jalur Batavia-Buitenzorg pada 15 Oktober 1869. Perusahaan ini pula sebagai pioneer yang pertama kali, membangun jalur kereta api di Semarang. Sekadar catatan, pembangunan jalur kereta api memang tidak dimulai dari Batavia tapi dari Jawa Tengah, di mana bukan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Alasannya adalah karena jalur kereta api diperlukan untuk mengangkut hasil bumi, seperti kayu, tembakau, kopi, gula. Alasan lain adalah karena ada usul agar pembangunan jalur rel Batavia-Buitenzorg dilakukan oleh pemerintah, bukan swasta. Namun karena keuangan negara belum kuat maka ditolak. Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia jilid I disebutkan, Gubernur Jenderal Rochussen yang mengusulkan pemerintah membangun jalur tersebut. Usul itu disampaikan kepada pemerintah Kerajaan Belanda pada 1846. Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorg juga merupakan jalur pengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial. Dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah. Akhirnya jalur itu terealisasi pada 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan jalur sepanjang 58.506 m (sekitar 58 km). Tapi jalur tersebut juga kemudian menjadi batu loncatan untuk melanjutkan jalur kereta api hingga ke tanah Parahyangan karena di kawasan itu lebih memerlukan alat pengangkut hasil bumi berupa kina, kopi, dan teh. Kembali ke NIS atau NISM, yang kemudian menyerah pada masalah keuangan, dan pembangunan diambilalih oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara, maka jalur Buitenzorg ke Parahyangan dibangun oleh SS. Pembangunan prasarana kereta api berupa jembatan dan terowongan di jalur ini sudah menggunakan teknologi maju pada masa itu. Alam Parahyangan yang berupa pegunungan dan lembah nan curam itulah yang memaksa Belanda menerapkan teknologi canggih. Jaringan rel kereta api milik SS di Pulau Jawa dibagi dua lijn atau jalur barat dan timur. Lijn barat membentang dari Bogor-Yogyakarta. Jalur barat milik SS ditandai dengan pembukaan jalur Buitenzorg-Tjitjoeroeg pada 1881. Secara total lintas Buitenzorg-Bandoeng-Tjitjalengka dibuka SS pada 10 September 1884, sementara lintas Tjitjalengka-Garoet pada 1886, dan Tjitjalengka-Tjilatjap pada 1894. Pada tahun 1900, SS juga membeli lintas Batavia-Krawang sepanjang 63 km yang selesai dibangun pada 1898 oleh perusahaan swasta bernama Bataviasche Ooster-Spoorweg Maatschappiji (BOS). Di akhir 1900, pemerintah Kolonial Belanda memutuskan, jalur rel Krawang menuju Tjikampek ke Padalarang di lintasan Buitenzorg-Bandoeng-Djokdja bisa dibangun. Jalur rel sepanjang hampir 100 km itu, setengahnya, harus menembus pegunungan karena melintas di kawasan Parahyangan. Jalur itu kelar pada 1906.   Sumber: kompas.com http://hilmaninformationcenter.blogspot.com

Sumber: kompas.com
◄ Kembali Ke Daftar
 
 
 
Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan Anda pengunjung ke - sejak 31 Agustus 2015 ©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia