Telusur :
 
Kisah Bersejarah
 
Detail Cantuman
Koleksi Kisah Bersejarah Batavia
 
◄ Kembali Ke Daftar
Judul Penduduk Batavia Abad ke-18
Tahun 1766
Uraian:  
 

Sebelum dibangunnya kota Batavia oleh VOC, kota Jayakarta masih sedikit didiami penduduk. Banyak tanah kosong dan hutan belantara terdapat di sana. Namun sejak diambil alih oleh VOC, pembangunan giat dilaksanakan, terutama di sekitar pesisir atau pelabuhan. Akibatnya pada abad ke-18 Batavia menjadi salah satu kota paling ramai dan sibuk di dunia. Banyak penduduk bekerja dan kemudian menetap di sini.

Memang tidak ada data resmi dan akurat mengenai jumlah penduduk Batavia pada abad ke-18 itu. Hanya diperkirakan 30.000 jiwa, bahkan hingga 100.000 jiwa sebagaimana laporan Valentijn. Mereka bertempat tinggal di dalam dan di luar benteng. Ditinjau dari komposisi penduduk, mereka terdiri atas berbagai bangsa dan sukubangsa. Selama periode kolonial ini, ras dan agama merupakan dasar terpenting dalam pelapisan sosial, alokasi pekerjaan, dan berbagai kesempatan lainnya.

Milone (1975) mengelompokkan penduduk dan masyarakat kota Batavia menjadi lima golongan. Pertama, orang-orang Eropa, termasuk para pejabat VOC. Kedua, warga kota merdeka, terdiri atas Vrijburger, Eurasian, Mardijker, Papanger, orang Jepang, orang Indonesia Kristen, dan beberapa orang Afrika. Ketiga, orang Cina, Arab, dan India. Keempat, orang Melayu. Kelima, orang Indonesia non-Kristen.

Yang dimaksudkan dengan orang Eropa adalah orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa dan di luar Eropa yang menetap di Batavia. Umumnya, orang-orang Eropa yang dilahirkan di luar Eropa tidak menduduki posisi tinggi dalam struktur VOC dibandingkan orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa. Termasuk ke dalam golongan ini adalah orang-orang Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan Portugis.

Istilah vrijburger (warga merdeka) mengacu pada sekelompok masyarakat Eropa yang tidak bekerja pada VOC, namun terikat oleh peraturan-peraturan tentang pertahanan militer. Eurasian sering disebut mestizo dan populer dengan istilah indo. Istilah ini dipergunakan untuk menyebut kelompok masyarakat yang dilahirkan oleh ibu Asia dan ayah Eropa. Namun dalam sejumlah kepustakaan, kedua istilah sering dibedakan. Mestizo untuk menyebut peranakan dari ayah Eropa, sementara eurasian atau indo adalah peranakan dari ayah Belanda.

Ditinjau dari kebangsaan, setelah Eropa yang menduduki status sosial di bawahnya adalah orang Timur Asing. Di antara orang-orang Timur Asing, orang Cina terbanyak jumlahnya. Di Batavia mereka merupakan golongan terpenting setelah bangsa Belanda karena memberikan kontribusi besar di bidang perekonomian. Pada 1766 jumlah orang Cina di Batavia mencapai 2.518 orang (di dalam benteng) dan 24.157 orang (di luar benteng). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Setelah orang Cina, jumlah terbanyak berikutnya untuk orang Timur Asing disandang oleh orang Moor. Pada 1766 jumlahnya adalah 138 (di dalam benteng) dan 1.265 (di luar benteng). Istilah orang Moor adalah sebutan yang pada mulanya ditujukan untuk orang-orang Islam yang berasal dari Kalingga di pantai Koromandel, India. Ada juga yang mengidentifikasi orang Moor sebagai orang Islam asing sehingga pengertiannya menjadi lebih luas. Dengan demikian orang Parsi dan Arab juga dimasukkan ke dalamnya. Orang-orang Moor biasanya mencari nafkah sebagai pedagang tekstil dan barang-barang yang didatangkan dari Bombay. Sebagian bekerja pada VOC sebagai serdadu bayaran [Tawalinuddin Harris, Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial (Abad XVI-XVIII)].

Warga lain yang termasuk orang Timur Asing adalah orang Jepang. Mereka merupakan keturunan imigran yang berasal dari pelabuhan milik VOC di Hirado dan Nagasaki. Jumlah mereka tidak diketahui secara tepat. Seandainya pada 1635 Jepang tidak dinyatakan tertutup oleh Tokugawa, jumlah mereka mungkin besar. Ketika itu ada aturan orang-orang Jepang dilarang ke luar negeri. Sementara mereka yang sudah berada di luar negeri, dilarang untuk kembali. Akibatnya orang-orang Jepang yang berada di Batavia terpaksa melebur diri dengan penduduk sekitar. Sebagian besar dengan orang-orang Cina karena memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama.

Orang Timur Asing lainnya adalah Papanger atau Papango. Mereka berasal dari suatu daerah di sebelah Timur Laut Manila, Filipina. Di tempat ini orang-orang Spanyol yang menjajah Filipina, pernah mendidik mereka sebagai prajurit yang tangguh. Orang Papango mengadopsi unsur-unsur budaya Spanyol, beragama Katholik, dan mengambil nama Spanyol. Mereka datang di Batavia sebagai tawanan perang. Setelah bekerja pada VOC selama satu tahun, mereka mendapatkan kemerdekaan. Kemudian mereka diangkat sebagai serdadu bayaran dan polisi keamanan kota.

Orang mardijker (merdeka) berasal dari orang-orang Koromandel, Arakan, Malabar, Srilanka, dan Melayu yang menyerap kebudayaan Portugis. Sebelumnya mereka berstatus budak, yang dibebaskan karena dibaptis menjadi agama Katholik. Sementara orang-orang pribumi terdiri atas berbagai kelompok etnis. Mereka umumnya dijadikan serdadu VOC. Sebagian besar dari mereka didatangkan dari luar Batavia, seperti Bali, Makassar, Bugis, Madura, Flores, dan Banda. Budak merupakan penduduk terbesar Batavia kala itu. Pada 1779 jumlah budak mencapai 39.892 jiwa. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Warta Kota 

Sumber: http://hurahura.wordpress.com
◄ Kembali Ke Daftar
 
 
 
Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan Anda pengunjung ke - sejak 31 Agustus 2015 ©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia